Tampilkan postingan dengan label kampus fiksi angkatan 23. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampus fiksi angkatan 23. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2015

Dibalik Kampus Fiksi #1


Kampus Fiksi? Hal yang baru saya sadari keberadaannya kurang lebih setahun silam. Tepatnya saat diumumkan bahwa pendaftaran kampus fiksi telah ditutup. Ditutup? Kapan membukanya? Baiklah, saya memang kudet.

Sebenarnya saya lebih dulu mengenal sang empunya kampus fiksi, ya DivaPress –penerbit yang selalu inovatif dan kreatif, menurut saya. Kira-kira saat itu saya masih lugu-lugunya menjadi mahasiswa baru. Itulah pula untuk pertama kalinya, saya mulai menjejakkan pena dalam dunia kepenulisan. Jangan membayangkan dunia kepenulisan terlalu liar. Bukan. Bukan seperti itu yang saya maksud. Jadi begini...

Saya mengalami sebuah turbulensi, tepatnya setelah bertemu dengan seorang dosen yang cukup mengoyak batin. Saat itu beliau menyampaikan kegelisahannya –hingga menitikkan air mata di depan puluhan mahasiswanya- tentang kondisi mahasiswa sekarang yang sudah jarang menyentuh dunia literasi bahkan untuk sekedar rutin membaca koran, itu sudah jarang terlihat. Terbukti saat beliau membuka sesi diskusi tentang isu-isu yang hangat terjadi saat itu, tidak ada satu pun diantara kami mahasiswanya yang nyambung dengannya. Melihat kejadian itu beliau tidak marah, sama sekali tidak. Hanya saja, ia sangat kecewa. Sangat. Kesedihan dalam raut wajahnya sudah cukup menjelaskan, tidak bisa ditutupi.

Selanjutnya muncullah pertanyaan-pertanyaan yang mulai membebat hati saya: Sebegitu parahkah kami yang tidak pernah membaca koran? Sebegitu payahkah kami yang tidak terbiasa menulis? Baiklah, mungkin saya terlalu sensitif atau justru kurang bisa cuek? Tapi, melihat dosen menangis di hadapan puluhan mahasiswanya gara-gara ‘baca-tulis’ bukanlah perkara biasa. Sepertinya saya memang sudah keterlaluan selama ini. Baiklah, mulai detik ini saya akan berubah. Saya akan membaca dan menulis. Apapun.

Begitulah satu dari sekian hal yang melatar belakangi saya mulai mengenal dan mengendus dunia literasi. Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan segenap informasi yang berkaitan dengan dunia tulis menulis. Atau lebih tepatnya mengumpulkan informasi tentang lomba-lomba menulis. Ternyata cukup banyak event yang bisa diikuti berkaitan dengan tulis-menulis. Itu yang membuat saya tambah bergairah.

Saking banyaknya event lomba yang saya ikuti, saya putuskan untuk membuat list lomba. Saya sajikan dalam tabel-tabel berisi jenis lomba, deadline, hingga tanggal pengumuman, tak lupa kolom keterangan yang nanti bisa diisi lolos atau tidak. Selanjutnya, list itu saya tempelkan dengan manis di kamar kos. Biar menjadi saksi atas terwujudnya mimpi-mimpi saya kelak, begitulah.

Saya cukup bersemangat saat itu. Beribu angan menggebu untuk bisa menjadikan karya saya ini menjadi juara. Namun, belum lama memulai nulis, saya menemui jalan buntu. Tulisan yang saya buat hanya mentok tiga halaman saja. Stag. Otak saya sudah tidak bisa berpikir lagi, tidak ada kata-kata untuk bisa dirangkai lagi, padahal ketentuan naskah untuk lomba minimal delapan halaman. Oh God! Give me breath!

Baiklah lupakan. Ikuti saja aturannya. Menulislah delapan halaman, tanpa perlu melihat konten tulisanmu. Itu prinsip yang saya ambil. Akhirnya, saya memang berhasil menyelesaikan karya delapan halaman itu. Cukup puas dan bangga. Namun, rupanya saat itu saya lupa bahwa di luar sana masih ada banyak penulis lain yang juga mengikuti event ini tentu dengan kemampuan yang lebih. Ya, saya terlalu over confidence, merasa karya sendiri begitu sempurna. Perfecto! Nyatanya saya salah besar!

Hari pengumuman yang tertera di list tidak pernah saya lewatkan. Dengan ketajaman mata penuh, saya membaca perlahan –juga tentunya dengan penuh pengharapan untuk menang, berharap tidak ada satu informasi pun yang terlewatkan di situs peyelanggara lomba itu.

Sudah lebih dari sekali saya membaca pengumuman lomba itu, nama saya terlewatkan? Tidak. Sepertinya memang nama saya tidak ada. Saya tidak lolos. Oiy, beginikah rasanya saat naskah yang susah payah kita ciptakan itu ditolak? Mungkin, beginilah yang dirasakan para lelaki saat sang wanita pujaan menolak cinta tulusnya. Sakit ya? Nyesek bingits!

Baiklah, setidaknya masih ada Om Mario yang terus berpidato menyemangati segenap kaum muda untuk tidak putus asa dalam kegagalannya. Saya bangkit. Akan saya buktikan itu! Ikat kepala, saya tarik lebih kencang. Fighting! 6(^0^)9

source picture
Event yang saya ikuti semakin banyak. Mata saya semakin liar menelusuri situs-situs kompetisi menulis. Yeah, i got it, DivaPress! Di sini disebutkan DivaPress setiap bulan rutin menyelenggarakan kompetisi menulis cerpen dengan tema yang ditentukan. Cerpen yang terpilih akan dibukukan dan dipajang di toko buku se-Nusantara. WOW! Ini keren! Dan saya harus ikut!

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, untuk lomba kali ini saya mempersiapkannya dengan lebih matang. Saya mulai berbenah. Syukurlah dengan kesabaran perlahan saya mulai bisa membuat karya lebih dari tiga halaman, tentunya tanpa terpaksa. Selesai. Siap untuk dikirim dan tinggal tunggu hasilnya.

Tidak sabar melihat nama saya terpampang di situs itu sebagai kandidat yang lolos. Saya tersenyum lebar setidaknya hingga sebelum nama saya tidak kunjung ditemukan. Lebih tepatnya memang tidak ditemukan. Oh, saya tidak lolos (lagi).

Apakah lantas dunia hancur? Oh maaf, senapan semangat saya masih lebih dari cukup tersedia. Saat itu saya masih bisa tersenyum. Menyemangati diri sendiri, gagal adalah awal dari keberhasilan. Tenang! Begitu batin kecil saya berteriak. Masih ada event bulan depan lagi bukan? Rasanya tidak masalah!

Benar, saya lalu mengikuti event DivaPress selanjutnya. Dan alhamdulillah, berkat keseriusan dan kegigihan, saya kembali dinyatakan: ‘t-i-d-a-k l-o-l-o-s’. WHAT? TIDAK LOLOS? LAGI?? Ini yang keterlaluan siapa? Saya atau DivaPress? Saya kira gagal itu tidak perlu banyak-banyak, sekali saja cukup. Namun, sepertinya saya akan mengalami lebih. Apakah saya kuat bertahan?

Jika dengan usaha sekeras itu masih belum lolos juga, maka saya harus benar-benar memaksimalkan otak saya untuk berpikir, tangan saya untuk menulis, hati saya untuk membaca, semuanya. Saya memutuskan untuk tetap terus mengikuti event-event kepenulisan lainnya. Ada yang berbeda kali ini. Ternyata teman satu kelas ada yang menyukai literasi beginian juga. Dengan menggebu saya ajak dia. Finally, dia juga ikut. Masih inget banget tema yang diusung saat itu adalah tentang jomblo, haha, ini sih saya banget!

Saya cukup optimis untuk bisa lolos kali ini. Bisa dibilang, saya cukup lama menguasai tema itu, hahaha. Dan memang pada akhirnya alhamdulillah, ternyata teman saya yang justru lolos. What??? Terus saya? Saya masih meratapi nasib! Huhuhu. Jleb banget nggak sih? Temen saya yang baru sekali ikut langsung lolos, sedangkan saya? Cukup! Tidak perlu diungkit-ungkit lagi!

Dengan susah payah menahan malu, saya samperin dia lalu menjabat tangannya mengucapkan selamat. Batin saya menjerit-jerit saat itu. Bertampang sok tegar saya bilang, ‘Beb, boleh liat tulisan kamu nggak?’ Niat hati sih untuk mengukur tulisan saya seburuk apa gitu. Dan ternyata, ngooohaaa,  terpampang nyata bahwa naskah saya emang masih jauh pake banget.

Oke, oke. Seenggaknya saya sudah tau naskah tipe apa yang bisa lolos. Berkaca dari kejadian menyakitkan itu, saya lantas bangkit dengan semangat baru. Kali ini saya akan membuktikannya. Kita lihat saja!

Benar, event selanjutnya kemudian dibuka dengan tema ‘ibu’. Saya lantas mulai menulis, dengan kehati-hatian, penuh perasaan, juga memberi beberapa sentuhan akhir sebagai pemanis, akhirnya naskah itu selesai. Send. Selanjutnya hanya bisa berdoa dan berharap. Semoga Tuhan meloloskannya.

Nasib oh nasib! Kembali lagi saya harus menerima kenyataan p-a-h-i-t untuk tetap bertahan pada kesabaran karena nama saya b-e-l-u-m terpampang di situs DivaPress. Dan satu lagi yang menambah impian-impian saya terasa semakin kabur, teman saya kembali dinyatakan lolos.


T.A.M.A.T.

Source Picture

Hahahaha. Nggak sampe pake acara gantung diri juga kali ya! Oke, bercanda! Memang tidak saya pungkiri sakitnya tuh pake banget, disini! Tapi, untungnya senapan semangat saya masih belum habis. Saya ikut lagi event lainnya. Masih dari DivaPress. Singkat cerita, saat itu saya dan temen saya ikut dan alhamdulillah, kami berdua dinyatakan tidak lolos. Hahaha. Seenggaknya saya tidak malu-malu banget.

Dari situ -istilah jawanya- saya mulai mutung. Apa yang salah dengan naskah saya? Apakah saya menjadi peserta yang di-blacklist? Sepertinya DivaPress memang sengaja menolak naskah saya. Tapi atas dasar apa? Akhirnya saya memutuskan tidak ikut lagi eventnya DivaPress untuk sementara, setidaknya hingga hati saya benar-benar siap.
To be continue...

Rabu, 04 Maret 2015

Secret Follower

Membidik dari balik layar tujuh inchi sebuah gadget lalu menangkap siluet dari berbagai angle view instagrammu adalah rutinitasku sekarang. Aku perlu mengendap-endap bahkan menahan nafas, takut engkau justru bersembunyi dari bidik lensaku. Aku pun memaksa diri untuk bertahan mengintai segala ruang gerakmu hari ini dan entah sampai kapan melalui dimensi facebook, twitter, BBM, path, hmmm, segalanya. Semua hanya untuk sekedar ‘menjumpaimu’ hari ini.
Setelah puas mengusik sedikit duniamu, kulanjutkan hariku dengan menjalaninya tanpa khawatir, tanpa ragu, dan penuh ceria. Pagi ini aku akan bertemu dengan mata kuliah paling tidak disukai sepanjang sejarah kehidupan mahasiswa. Mata kuliah yang sering membuat mahasiswa gagal memakai selempang cumlaude di hari wisudanya. Ya, kalkulus.
Dosen pengampunya pun tak jauh berbeda, killer, kejam, penuh perhitungan, begitu dermawan memberikan nilai D bahkan E, begitulah kabar yang mewarnainya. Aku tak sepenuhnya setuju. Bagaimanapun, aku berutang terimakasih padanya. Beliaulah yang mempertemukanku denganmu. Kau dipilih menjadi asistennya. Karena beliaulah, engkau bisa berdiri di depan kelas ini, membiarkan mataku menelanjangimu sesuka hati, membiarkanku semakin jauh terseret dalam pusaran kharismamu.
Engkau jelas berbeda dengan beliau, lembut, penuh sabar, begitu memahami setiap jengkal kesulitan mahasiswa. Engkau supel namun tak pernah lupa identitas. Selalu membuka tangan kepada siapa pun yang datang. Engkau begitu bersahaja dalam setiap laku. Ucapmu bagai mantra penghidup semangat setiap pendengarnya, membuat jiwa-jiwa yang hidup berlekas diri untuk menuntaskan segala mimpinya.
Itulah sedikit dari banyak hal yang membuatku berat untuk tidak jatuh cinta padamu. Sejak pertama aku sepenuhnya sadar, engkau berbeda. Begitu spesial. Engkau mampu meluluhkan dosen yang tak kusangka bisa diluluhkan. Ada apa dalam dirimu? Sebuah tanya yang hingga detik ini membuat rasa penasaranku kian tak terbendung dan aku berjanji akan segera menemukan jawabnya.
Usai menghabiskan beberapa jam bersamamu, aku menuju tempat yang biasa kau tuju juga. Masjid kampus. Di tempat inilah auramu melesat berkali-kali lipat dan aku semakin suka. Aku kian luluh menyaksikan khasanah ilmu yang kau bagikan percuma dalam kelompok tarbiyahmu[1]. Bagaimana aku tidak jatuh cinta? Bersamamu, dunia dan akhirat dalam genggaman. Engkau memang spesial. Sungguh.
Oh ya, masih ingatkah engkau dengan interaksi pertama kita? Saat aku mengumpulkan tugas praktikum? Kau ingat? Sepertinya tidak, atau justru engkau tidak pernah tau aku ada di dunia ini? Baiklah, tak mengapa. Mungkin sebaiknya memang begitu. Sekarang ijinkan aku menceritakannya, sedikit saja, mungkin kau ingat.
Akulah mahasiswa yang selalu mengumpulkan tugas praktikum pada jam, menit, dan detik-detik terakhir. Akulah yang saat itu banjir keringat hanya karena mengumpulkan segenap nyali untuk bisa melangkah mendekatimu. Genderang jantung yang sudah bertalu-talu sejak tadi mengiringi hembusan nafas yang kian tak berirama. Tepat didepanmu, aku hanya bisa menyerahkan beberapa helai kertas. Diam. Menatapmu dalam jarak sedekat itu, membuatku tak kuasa banyak bertingkah. Aku memilih segera berlalu. Tapi aku mendengar kau bersuara. Iya, kau. Seperti biasa, penuh dengan keramahan, keterbukaan. Sungguh, aku begitu bahagia mendengar suaramu dalam jarak sedekat itu.
“Ada kesulitan nggak dek?” itu kalimat pertamamu padaku. Kau ingat?
Aku hanya diam. Seluruh pancaindra mendadak mati. Menjawabmu rasanya tidak mungkin, lidahku kelu. Sekedar menggeleng rasanya juga tidak mungkin, seluruh urat syarafku lumpuh. Aku memilih pergi, menyisakan tanda tanya dalam hatimu.
Sebatas itulah komunikasi antara kau dan aku, bahkan hingga detik ini. Jujur, aku begitu ingin berbincang denganmu walau hanya untuk sekedar menyapa, ‘selamat pagi kak?’. Sayangnya, aku tak pernah bisa. Sejauh ini, aku hanya bisa menatap iri saat teman-teman berguru ilmu padamu, berdiskusi seru, bercengkrama bebas. Sungguh aku ingin! Namun, nyaliku terasa tiada pernah cukup.
Sore beranjak petang, itulah waktu yang biasa mengantarmu pulang. Semoga matahari sore ini dapat mejadi penghibur harimu yang lelah. Sebelum mataku terpejam, selalu kusempatkan untuk memastikan keadanmu baik di sana. Aku tak peduli dengan kekurangkerjaan yang kulakukan ini. Bagiku, kau seperti morfin, semakin kuhirup semakin memberikan tenang.
Entah ini sudah hari keberapa aku menjadi secret follower-mu, hanya saja kali ini aku merasa ganjil. Aku mendapatimu berbeda. Apakah engkau sedang jatuh cinta? Syair indah dalam statusmu begitu jelas mengungkapkan segenap kidung hatimu. Engkau mencintai seorang gadis bukan? Ya, tentu itu bukan aku.
Kau ingin tau perasaanku saat itu? Aku marah, sakit, dan begitu kecewa. Tak perlu kututupi karena memang begitulah rasanya. Terasa begitu sia-sia apa yang kulakukan selama ini. Tak bisa kugambarkan bagaimana rasa sakit itu. Tak perlu kugambarkan dan tak perlu kau rasakan. Cukup aku saja.
***
Oksigen tetap memberiku nafas, cahaya tetap memberiku terang, langit pun tetap memberiku cerah. Sungguh, dunia tidak berubah, tapi ada apa denganku? Kudapati sebuah ruang jauuh di sana yang kian terasa kosong. Kuharap waktulah yang akan mendamaikan perasaanku, tapi nyatanya tidak. Ia justru kian menjauh tak bergeming. Sudahlah, cukup! Mungkin ini saat bagiku untuk belajar hakikat mencintai. Memaknai mahakarya Tuhan itu dengan sakral, tulus, dan indah. Akan kucoba.
Waktu berhasil mengantarku pada sebuah titik ketika jiwa ini melebur dengan sebuah pemaknaan bahwa mencintai adalah untuk melepaskan. Seperti sebuah keindahan yang berlapis pengorbanan, begitulah. Jika memang nantinya ada gadis yang jauh lebih baik dan lebih pantas untuk mendapatkanmu, mengapa tidak? Jika engkau kelak ditakdirkan untukku, sudah pasti aku bahagia. Doaku setiap hari pun tak lepas dari itu. Namun kau harus meyakini satu hal, engkau adalah lelaki baik, engkau pasti ditakdirkan untuk mendapatkan gadis baik. Itu saja.
Akhirnya kuputuskan untuk tetap setia menjadi secret follower-mu. Rasa sakit yang dulu ada, telah kusudahi. Akan kupastikan gadis yang kelak kau dapatkan adalah dia yang memang layak untuk bisa bersanding denganmu. Mencintai untuk melepaskan itu sungguh luar biasa indah meski sepenuhnya kusadari, pengorbananlah yang membuatnya terasa indah. Bukankah melihat orang yang kita cintai tidak bahagia akan terasa menyakitkan? Dan aku memilih begini. Memilihmu bahagia.
Wahai engkau, bukankah indah caraku mencintaimu?



[1] Kegiatan yang mencakup pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan, dan perasaan memiliki terhadap orang lain.