Tampilkan postingan dengan label Cerita tentang Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita tentang Aku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2017

Sebuah Catatan Perjalanan

Apa-apa yang aku tuliskan di sini barangkali masih sangat belum bisa mewakili segala hal yang ingin tersampaikan. Meski begitu, bolehlah aku mencoba (sedikit) berkisah.

Akhir 2016 dan mula 2017 ini menjadi momen maha penting dalam risalah perjalanan hidup aku. Allah kasih aku kesempatan main-main ke rumah-Nya. Keinginanku menjadikan Mekah dan Madinah sebagai kota asing pertama yang aku singgahi, sungguh Allah wujudkan. Aku menyangka? Jelas tidak. Semua bermula dari ajakan Ibuk yang sebenarnya juga tak disengaja. Singkat cerita aku dan ibuk berangkat, tepatnya tanggal 29 Desember 2016.

Kami bertolak dari Jakarta langsung menuju ke Mekah. Pihak biro menganjurkan  mamak-mamak untuk berpakaian ihrom sejak dari Jakarta, papah-papah ihrom di Jeddah. Kurang lebih pukul 21.00 waktu setempat kami sampai di Bandara King Abdul Aziz. Menggunakan bus charteran, kami otw ke Mekah untuk melaksanakan umroh wajib setelah mengambil miqat sebelumnya. Dan pembelajaran pertamaku dimulai di sini.

Ketika prosesi check n recheck imigrasi berlangsung, aku coba ngobrol-ngobrol dengan mbak-mbak sekelompok. “Mbok kita itu pake ihromnya pas udah sampe sini ya, Mbak! Kan lebih bersih bajunya, lebih terjaga sucinya.” Dengan maha songong, aku etel sekali bilang begitu. Lalu sak jleg seketika itu juga Allah kasih aku mabuk perjalanan pas otw ke Mekah-nya. Aku muntah heybat sampe tumpah-tumpah ke baju. Padahal itu aku udah pake kresek.

Well, lewat kejadian itu berasa aja Allah ingin bilang kek gini, “Emang elu bisa jamin Jat, kalo baju yang elu pake di sini (Jeddah) bakalan lebih suci? Emang elu Allah?” Allah Kariim.. Ini beneran yah aku kena omongan sendiri. Kesombongan macam apa yang kuperbuat?

Astaghfirullahal’adzim!

Yah.. begitulah.. kesombongan. Sering kali aku menuhankan itu. Merasa diri ini lebih kuasa ketimbang Allah. Merasa lebih berhak mengadili segala sesuatu atas nama sendiri. Merasa paling benar dan paling-paling yang lain. Di hadapan Allah, semua hanya debu. Aku ini kecil. Sekecil-kecilnya. Apa yang bisa aku sombongkan di hadapan kuasa-Nya? Nothing! Nggak ada!

Doc.Pribadi
Kali kedua aku kembali dikasih pelajaran sama Allah. Usai menjalankan umroh wajib dan beberapa kali berkegiatan di Masjidil Haram, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Aku merasa nggak ngefeel. Rasa-rasanya ada sesuatu yang berkabut gitu lah. Hati berasa senep. Nggak hepi. Ada yang owah pokoknya. Ini apa yaa Allah?

And well, kesemuanya terjawab saat aku mengambil wudhu untuk umroh kedua. Suara hati tiba-tiba bicara. Dia bilang gini, “Jat, kamu berangkat umroh hingga sejauh ini sudahkah minta maaf sama bapak-ibu?” Aku langsung clakep diem. Sontak ngga kuasa ngomong apa-apa. Speechless. Sekonyong-konyong aku berasa ditampar segampar-gamparnya. Berulang kali lantas aku berujar, “Kok bisa-bisanya sih aku ngga mikir sampe ke situ?”

Astaghfirullahal’adzim!

Usai wudhu, langsung saja aku menemui Ibuk. Menyampaikan apa yang seharusnya kusampaikan. Bapak lekas kuhubungi sesudahnya. Usai prosesi yang cukup menguras air mata itu, kabut tadi seketika menghilang. Allah Kariim.  

Di sini aku ingin bilang bahwa ridho orang tua itu number wahid. Apalagi keduanya masih sugengUpokorolah sebisa-bisa yang kita lakukan. Aku pun masih jaauuuh dari kesempurnaan birul walidain itu sendiri. Namun, kurasa Allah suka dan menghendaki siapa pun untuk senantiasa melakukan perbaikan atas hubungannya dengan orang tua. Sebagaimanapun mereka. Sebagaimanapun kita.

Kisah berlanjut. Pembelajaran selanjutnya kembali hadir. Bermula dari ucapan ‘sakit’ yang tak kumaksudkan demikian, aku pun benar-benar diberikan sakit. Barangkali jika saat itu aku membawa termo ukur, suhu tubuh mencapai 38-39 derajat. Iya. Panas banget. Belum lagi pilek dan batuk yang agaknya hanya numpang lewat, justru berdiam lebih lama, juga lebih parah. Allah Kariim.

Barangkali jika di sana aku berucap nemu jodoh, Allah kasih beneran kali ya itu jodoh? Ehe. Intinya aku pengen bilang kalo Tanah Haram itu tempat sakral se sakral-sakralnya. Serius. Lisan benar-benar dilatih untuk dijaga. Nggak ada tuh cerita lambe turah, yang ada lambe dzikir dan sholawatan.

    Jadi gini lho, di sana aja kita begitu dijaga dalam lisan. Salah dikit langsung Allah tegur. Itu di sana. Hla gimana kalo di sini? Di sini ibarat kata mau ngomong apa pun, dijarne aja sama Allah. Nah makanya harus lebih berhati-hati to dalam menjaga omong. Gitu.

Doc.Pribadi
Satu hal lagi yang bikin aku makin tertunduk atas kemahaan-Nya. Selama aku terbaring sakit, maksud hati ingin ngeyem-yemi Ibuk biar ngga banget khawatirnya, lantas aku bilang gini, “Dah buk, ngga usah panik. Jati sakit paling gara-gara mau haid aja.” Well.. bisa ditebak dong ya apa yang terjadi kemudian? Yap! Aku beneran dapat haid. Padahal kalo menurut hitungan, harusnya sih haidnya pas udah balik tanah air. Allahu Akbar!

Tiada hal lain yang bisa kulakuin selain narimo. Banyak yang lalu menyarankan untuk minum pil dan sejenisnya, tapi kubilang, sudahlah. Dalam kasus ini, menurut aku, konsekuensi haruslah dihadapi. Bukan dihindari. Bukan diakali.

Lewat kejadian ini aku makin mengilhami sepenuh hati bahwa kedigdayaan-Nya benar-benar tiada tertandingi. Hash, kita ini mah cuman kumparan debu. Asli. Kun fayakun yang sebenar-benarnya begitu jelas diperlihatkan-Nya di depan mata. Kita mah bisa apa? Jangan pun minta jodoh, minta balikan sama mantan pun bisa. Hloh. Hey-hey.. maksud aku gini lho, kita minta apa pun sama Allah itu sangat layak selayak-layaknya. PAS. Dan emang sama Beliau-lah, the only one! Apa ya bahasa Arabnya? Emm, pokoknya gitu.

Doc.Pribadi
Dan ada satu pembelajaran lagi yang Allah kasihkan. Jadi selama di sana, aku merasa Allah berulang kali menunjukkan kesalahan niat yang selama ini mendasari setiap lakuku. Iya sih, aku tahu kalau apa-apa yang kita perbuat (utamanya terkait ibadah) niatkanlah lillahi ta’ala. Namun dalam implementasi, nyatanya aku belum. Lillahi ta’ala hanya sebatas lisan. Sama sekali belum menyesap dalam kalbu dan laku.


Jadi selama ini aku masih pahala oriented, bekal akhirat oriented, bukan Allah ta’ala oriented. Kalau shalat pun masih sering karena niat ingsun menggugurkan kewajiban. Bahkan nyemplungi kotak infak pun niat ingsunnya biar dapet balesan lebih. Hlah ya jelas salah to ya. Usholli fardhonya kan ya harus lillahi ta’ala. Cem itu lah.

Ketika di sana, Allah seakan mau ngasi tahu aku untuk melandaskan segala perkara hanya karena-Nya semata. Pahala dan bekal akhirat penting untuk dicari, namun laku kita lahir batin karena Allah-lah yang utama. Jika sudah demikian (insya Allah) produk sampingan berupa pahala, bekal akhirat, dan seterusnya, akan mengikuti.

Pahala ataupun bonus kebaikan yang lain itu sesungguhnya bukan urusan kita. Itu adalah hak prerogatif Allah semata. Mau menerima amal ibadah kita atau enggak, mau ngasih pahala atau enggak, mau bales kebaikan kita apa enggak, toh pun iya dengan apa, toh pun enggak karena apa, itu-itu semua di luar kewenangan manusia. Serahkan saja itu pada-Nya. Tugas manusia adalah menjadi abdi-Nya yang senantiasa berusaha membaiki diri dalam laku dan ibadah. Gitu. 

Doc.Pribadi
Asli sebenernya masih ada baanyak hal yang belum kusampaikan tentang apa–apa yang kudapatkan di sana. Tentang kisah pertama kali melihat kabah, shalat di depan kabah, shalat Jumat pertama di Masjidil Haram, kisah burung dara, keindahan-kedamaian-kekhusukan masjid Nabawi, nuansa berbagi, tentang city tour, masjid Quba, Jabal Rahmah, ahh.. banyak pokoknya. Dan semuanya ngangenin. Aku akan sangat merindukan masa-masa itu. Masa ketika diri ini berada sangat dekat dalam rumah-Nya.

Allah.. ijinkan aku kembali..


Mekah - Madinah
29 Desember 2016 – 5 Januari 2017

Senin, 09 Maret 2015

Dibalik Kampus Fiksi #2


Ini adalah tulisan kedua dari "Dibalik Kampus Fiksi". Bagi yang belum baca bagian pertama, klik disini.

...
Memulihkan hati yang naskahnya udah keseringan ditolak itu emang enggak mudah. Salah satu caranya bisa dengan membaca buku. Itulah jalan yang saya pilih. Awalnya seneng banget bisa hunting dari satu tobuk ke tobuk lain, hunting diskon, tapi lama kelamaan dompet saya menjerit. Oke, oke. Kita ganti haluan. Pinjem aja kali ya?

Sejak itu, saya jadi semakin awas mencari temen-temen yang punya koleksi novel. Tanpa basi-basi eh basa-basi, langsung saja saya todong buat minjemi. Senengnya jadi preman buku! Hihihi. Nah mulai dari situ, saya mulai kesetanan. Sehari nggak baca buku itu rasanya gatel. Nggak nyaman. Bahkan pernah dalam seminggu bisa khatam kurang lebih empat novel. Yah begitulah rasanya kalau kita udah demen ama sesuatu. 

Bermula dari situ pulalah saya mulai belajar diksi, alur cerita, konflik, pokoknya bagaimana si penulis menyampaikan ceritanyalah. Mempelajari banyak aliran menulis, style kepenulisan, dan tetek bengek lainnya. Menjadi pembaca sekaligus pengamat, begitulah.

Selain hunting buku, saya juga ikutan berbagai event maupun seminar kepenulisan baik yang berbayar maupun free. Banyak banget hal-hal baru yang saya dapet, misal tentang pentingnya mengendapkan naskah, self editing, dan lainnya. Wow, ternyata selama ini pengetahuan saya masih jongkok banget. Pantes aja!

Merasa suasana hati sudah berangsur membaik, saya kembali lagi menggauli dunia kepenulisan. Slow aja, nggak perlu maksa. Alhamdulillah, emang kerja keras itu selalu berbanding lurus dengan hasil. Tulisan saya masuk sepuluh besar sebuah lomba menulis yang diadakan Pena Nusantara. Butuh diseleksi lima besar lagi buat bisa naik cetak. Hei, ini penerbit mayor! Seluruh Indonesia bakal bisa membaca tulisanku. Aih, senengnya!

Berusaha dan meminta sudah menjadi kewajiban setiap insan manusia, namun keputusan tetaplah menjadi wewenang-Nya. Impian yang hanya tinggal satu langkah lagi itu akhirnya masih belum bisa menjadi kenyataan. Naskah saya gagal tembus lima besar. Hohoho. Ngelus dada, sabar!

Meski begitu, saya nggak kecewa-kecewa banget. Ini event tingkat nasional dan berhasil masuk sepuluh besar itu menurutku cukup keren. Menghibur diri sendiri! Hehe. Saya semakin tertantang untuk menaklukkan pertarungan demi pertarungan lainnya. Tsah!

Singkat cerita, saya dipertemukan kembali dengan DivaPress melalui pembukaan seleksi Kampus Fiksi Reguler untuk angkatan 14 dst. Sayangnya, saat itu perhatian saya terpecah dengan tugas akhir (penyusunan proposal KTI) yang notabene hanya dikasi waktu satu bulan, ngooohaaa! Alhasil, saya baru bisa membuat cerpen H-3. Seleksi Kampus Fiksi adalah event penting, salah satu jalan yang bisa mewujudkan mimpi untuk menerbitkan buku, jadi saya tidak boleh menyia-nyiakannya!

Dari beberapa event kepenulisan yang saya ikuti, selalu disampaikan bahwa pembuka naskah adalah pertaruhan, sajikan secara berbeda. Oke, akan saya coba. Berikut sekelumit tips dan trik lainnya juga tak lupa saya terapkan. Selesai. Waktunya mengendapkan. Oke, sekarang self editting. Done. Send.

Usai mengirim, rasanya campur aduk. Puas, was-was, ah yang jelas masih cukup trauma dengan penolakan. Tapi, saya teringat dengan ilmu ikhlas yang diajarkan guru saya dulu. ‘Gunakan ikhlas setiap kamu menemui kesulitan.’ Jadi begini ...

Ikhlas adalah saat ketika apa yang ada dihadapan kamu sudah bukan menjadi urusanmu. Gini, saat naskah itu belum saya kirim, itu sepenuhnya masih menjadi urusan saya. Saya perlu melakukan riset, edit, pokoknya segala hal yang masih bisa saya usahakan demi untuk memaksimalkan karya. Paham? Nah, setelah naskah itu saya send, jelas-jelas saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Maka, satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah menyerahkan sepenuhnya segala keputusan hanya kepada-Nya. Mau diterima atau ditolak itu sudah bukan urusan saya lagi. Saya sama sekali tidak memikirkan itu. Bahkan, saya tidak berdoa agar naskah saya diterima. Bener-bener lepas. Sepenuhnya saya serahkan pada keputusan-Nya.

Itulah yang saya maksud dengan ilmu ikhlas. Perlu diasah memang. Kalau udah terbiasa, hidup bakal kerasa enteng! Yakin! Saya juga masih belajar membiasakan ikhlas. Ikhlas itu keren. Sumpah!

Source Picture
Awal Maret menjadi waktu yang cukup bersejarah bagi saya. Secara tidak sengaja, saya membuka facebook dan mendapati DivaPress mengunggah link pengumuman seleksi Kampus Fiksi (sebenernya itu link udah diunggah siang hari kemarin, tapi lagi-lagi saya kan kudet, hehe).

Deg! Batin saya berdesir. Memori penolakan mendadak tersibak. Harap-harap cemas. Mata saya jelalatan menyimak satu persatu nama yang terpampang di situ. Hampir lewat setengah halaman, nama saya tak kunjung muncul. Saya mulai lemas. Otak, wajah, dan seluruh tubuh saya mendadak terasa panas.

‘Yah, sepertinya masih belum rejeki,’ begitu ujar saya dan sepersekian detik kemudian tampaklah deretan nama saya berikut judul cerpen yang saya ajukan, dan tulisan angkatan 23. Spechles! Itu yang saya rasakan beberapa saat. Sontak saya lalu sujud syukur, nangis. Saya tidak tau apa yang harus saya lakukan selain itu. I really.. really don’t belief! OH GOD, THANKYOU!

Begitulah secuplik kisah saya di balik perjuangan Kampus Fiksi. Saya sepenuhnya sadar apa yang saya miliki saat ini masih belum apa-apa. Saya masih perlu baaanyaak belajar. Namun, saya bersyukur setidaknya telah dekat satu langkah dengan impian untuk bisa menerbitkan buku. 

Percayalah, nggak ada sesuatu yang indah dari sebuah proses yang instan. Hargai dan nikmati setiap detik usaha-usaha kita. Semoga tulisan ini bisa memberi tambahan motivasi bahwa apa pun bisa kita raih asal berusaha dan berusaha. Yakini, aku dan kamu pasti bisa!

Salam,

@jatisetya

Minggu, 08 Maret 2015

Dibalik Kampus Fiksi #1


Kampus Fiksi? Hal yang baru saya sadari keberadaannya kurang lebih setahun silam. Tepatnya saat diumumkan bahwa pendaftaran kampus fiksi telah ditutup. Ditutup? Kapan membukanya? Baiklah, saya memang kudet.

Sebenarnya saya lebih dulu mengenal sang empunya kampus fiksi, ya DivaPress –penerbit yang selalu inovatif dan kreatif, menurut saya. Kira-kira saat itu saya masih lugu-lugunya menjadi mahasiswa baru. Itulah pula untuk pertama kalinya, saya mulai menjejakkan pena dalam dunia kepenulisan. Jangan membayangkan dunia kepenulisan terlalu liar. Bukan. Bukan seperti itu yang saya maksud. Jadi begini...

Saya mengalami sebuah turbulensi, tepatnya setelah bertemu dengan seorang dosen yang cukup mengoyak batin. Saat itu beliau menyampaikan kegelisahannya –hingga menitikkan air mata di depan puluhan mahasiswanya- tentang kondisi mahasiswa sekarang yang sudah jarang menyentuh dunia literasi bahkan untuk sekedar rutin membaca koran, itu sudah jarang terlihat. Terbukti saat beliau membuka sesi diskusi tentang isu-isu yang hangat terjadi saat itu, tidak ada satu pun diantara kami mahasiswanya yang nyambung dengannya. Melihat kejadian itu beliau tidak marah, sama sekali tidak. Hanya saja, ia sangat kecewa. Sangat. Kesedihan dalam raut wajahnya sudah cukup menjelaskan, tidak bisa ditutupi.

Selanjutnya muncullah pertanyaan-pertanyaan yang mulai membebat hati saya: Sebegitu parahkah kami yang tidak pernah membaca koran? Sebegitu payahkah kami yang tidak terbiasa menulis? Baiklah, mungkin saya terlalu sensitif atau justru kurang bisa cuek? Tapi, melihat dosen menangis di hadapan puluhan mahasiswanya gara-gara ‘baca-tulis’ bukanlah perkara biasa. Sepertinya saya memang sudah keterlaluan selama ini. Baiklah, mulai detik ini saya akan berubah. Saya akan membaca dan menulis. Apapun.

Begitulah satu dari sekian hal yang melatar belakangi saya mulai mengenal dan mengendus dunia literasi. Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan segenap informasi yang berkaitan dengan dunia tulis menulis. Atau lebih tepatnya mengumpulkan informasi tentang lomba-lomba menulis. Ternyata cukup banyak event yang bisa diikuti berkaitan dengan tulis-menulis. Itu yang membuat saya tambah bergairah.

Saking banyaknya event lomba yang saya ikuti, saya putuskan untuk membuat list lomba. Saya sajikan dalam tabel-tabel berisi jenis lomba, deadline, hingga tanggal pengumuman, tak lupa kolom keterangan yang nanti bisa diisi lolos atau tidak. Selanjutnya, list itu saya tempelkan dengan manis di kamar kos. Biar menjadi saksi atas terwujudnya mimpi-mimpi saya kelak, begitulah.

Saya cukup bersemangat saat itu. Beribu angan menggebu untuk bisa menjadikan karya saya ini menjadi juara. Namun, belum lama memulai nulis, saya menemui jalan buntu. Tulisan yang saya buat hanya mentok tiga halaman saja. Stag. Otak saya sudah tidak bisa berpikir lagi, tidak ada kata-kata untuk bisa dirangkai lagi, padahal ketentuan naskah untuk lomba minimal delapan halaman. Oh God! Give me breath!

Baiklah lupakan. Ikuti saja aturannya. Menulislah delapan halaman, tanpa perlu melihat konten tulisanmu. Itu prinsip yang saya ambil. Akhirnya, saya memang berhasil menyelesaikan karya delapan halaman itu. Cukup puas dan bangga. Namun, rupanya saat itu saya lupa bahwa di luar sana masih ada banyak penulis lain yang juga mengikuti event ini tentu dengan kemampuan yang lebih. Ya, saya terlalu over confidence, merasa karya sendiri begitu sempurna. Perfecto! Nyatanya saya salah besar!

Hari pengumuman yang tertera di list tidak pernah saya lewatkan. Dengan ketajaman mata penuh, saya membaca perlahan –juga tentunya dengan penuh pengharapan untuk menang, berharap tidak ada satu informasi pun yang terlewatkan di situs peyelanggara lomba itu.

Sudah lebih dari sekali saya membaca pengumuman lomba itu, nama saya terlewatkan? Tidak. Sepertinya memang nama saya tidak ada. Saya tidak lolos. Oiy, beginikah rasanya saat naskah yang susah payah kita ciptakan itu ditolak? Mungkin, beginilah yang dirasakan para lelaki saat sang wanita pujaan menolak cinta tulusnya. Sakit ya? Nyesek bingits!

Baiklah, setidaknya masih ada Om Mario yang terus berpidato menyemangati segenap kaum muda untuk tidak putus asa dalam kegagalannya. Saya bangkit. Akan saya buktikan itu! Ikat kepala, saya tarik lebih kencang. Fighting! 6(^0^)9

source picture
Event yang saya ikuti semakin banyak. Mata saya semakin liar menelusuri situs-situs kompetisi menulis. Yeah, i got it, DivaPress! Di sini disebutkan DivaPress setiap bulan rutin menyelenggarakan kompetisi menulis cerpen dengan tema yang ditentukan. Cerpen yang terpilih akan dibukukan dan dipajang di toko buku se-Nusantara. WOW! Ini keren! Dan saya harus ikut!

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, untuk lomba kali ini saya mempersiapkannya dengan lebih matang. Saya mulai berbenah. Syukurlah dengan kesabaran perlahan saya mulai bisa membuat karya lebih dari tiga halaman, tentunya tanpa terpaksa. Selesai. Siap untuk dikirim dan tinggal tunggu hasilnya.

Tidak sabar melihat nama saya terpampang di situs itu sebagai kandidat yang lolos. Saya tersenyum lebar setidaknya hingga sebelum nama saya tidak kunjung ditemukan. Lebih tepatnya memang tidak ditemukan. Oh, saya tidak lolos (lagi).

Apakah lantas dunia hancur? Oh maaf, senapan semangat saya masih lebih dari cukup tersedia. Saat itu saya masih bisa tersenyum. Menyemangati diri sendiri, gagal adalah awal dari keberhasilan. Tenang! Begitu batin kecil saya berteriak. Masih ada event bulan depan lagi bukan? Rasanya tidak masalah!

Benar, saya lalu mengikuti event DivaPress selanjutnya. Dan alhamdulillah, berkat keseriusan dan kegigihan, saya kembali dinyatakan: ‘t-i-d-a-k l-o-l-o-s’. WHAT? TIDAK LOLOS? LAGI?? Ini yang keterlaluan siapa? Saya atau DivaPress? Saya kira gagal itu tidak perlu banyak-banyak, sekali saja cukup. Namun, sepertinya saya akan mengalami lebih. Apakah saya kuat bertahan?

Jika dengan usaha sekeras itu masih belum lolos juga, maka saya harus benar-benar memaksimalkan otak saya untuk berpikir, tangan saya untuk menulis, hati saya untuk membaca, semuanya. Saya memutuskan untuk tetap terus mengikuti event-event kepenulisan lainnya. Ada yang berbeda kali ini. Ternyata teman satu kelas ada yang menyukai literasi beginian juga. Dengan menggebu saya ajak dia. Finally, dia juga ikut. Masih inget banget tema yang diusung saat itu adalah tentang jomblo, haha, ini sih saya banget!

Saya cukup optimis untuk bisa lolos kali ini. Bisa dibilang, saya cukup lama menguasai tema itu, hahaha. Dan memang pada akhirnya alhamdulillah, ternyata teman saya yang justru lolos. What??? Terus saya? Saya masih meratapi nasib! Huhuhu. Jleb banget nggak sih? Temen saya yang baru sekali ikut langsung lolos, sedangkan saya? Cukup! Tidak perlu diungkit-ungkit lagi!

Dengan susah payah menahan malu, saya samperin dia lalu menjabat tangannya mengucapkan selamat. Batin saya menjerit-jerit saat itu. Bertampang sok tegar saya bilang, ‘Beb, boleh liat tulisan kamu nggak?’ Niat hati sih untuk mengukur tulisan saya seburuk apa gitu. Dan ternyata, ngooohaaa,  terpampang nyata bahwa naskah saya emang masih jauh pake banget.

Oke, oke. Seenggaknya saya sudah tau naskah tipe apa yang bisa lolos. Berkaca dari kejadian menyakitkan itu, saya lantas bangkit dengan semangat baru. Kali ini saya akan membuktikannya. Kita lihat saja!

Benar, event selanjutnya kemudian dibuka dengan tema ‘ibu’. Saya lantas mulai menulis, dengan kehati-hatian, penuh perasaan, juga memberi beberapa sentuhan akhir sebagai pemanis, akhirnya naskah itu selesai. Send. Selanjutnya hanya bisa berdoa dan berharap. Semoga Tuhan meloloskannya.

Nasib oh nasib! Kembali lagi saya harus menerima kenyataan p-a-h-i-t untuk tetap bertahan pada kesabaran karena nama saya b-e-l-u-m terpampang di situs DivaPress. Dan satu lagi yang menambah impian-impian saya terasa semakin kabur, teman saya kembali dinyatakan lolos.


T.A.M.A.T.

Source Picture

Hahahaha. Nggak sampe pake acara gantung diri juga kali ya! Oke, bercanda! Memang tidak saya pungkiri sakitnya tuh pake banget, disini! Tapi, untungnya senapan semangat saya masih belum habis. Saya ikut lagi event lainnya. Masih dari DivaPress. Singkat cerita, saat itu saya dan temen saya ikut dan alhamdulillah, kami berdua dinyatakan tidak lolos. Hahaha. Seenggaknya saya tidak malu-malu banget.

Dari situ -istilah jawanya- saya mulai mutung. Apa yang salah dengan naskah saya? Apakah saya menjadi peserta yang di-blacklist? Sepertinya DivaPress memang sengaja menolak naskah saya. Tapi atas dasar apa? Akhirnya saya memutuskan tidak ikut lagi eventnya DivaPress untuk sementara, setidaknya hingga hati saya benar-benar siap.
To be continue...

Rabu, 03 Desember 2014

Babay!

Lagi. Aku membenci huruf P, juga I, S, apalagi A, dan H. Membencinya jika terucap menjadi sebuah kata ‘berpisah’. Apakah menjadi sebuah mutlak jika pertemuan selalu dipasangankan dengan perpisahan? Haruskah?

Belum genap nafas ini dapat utuh berbagi. Belum juga tapak ini dapat saling mengukir asa, ceria dan cerita. Baru memulai mencerna marah atau mungkin duka dalam bungkam.  Baru mengerti arti diam. Baru mengerti arti dalam setiap kata. Baru memahami arti dalam setiap langkah. Baru memandang sempurnanya perwujudan. Baru bisa belajar tulus dalam lapis senyuman. Baru memandang lekat pancaran sikap.

Disana. Jelas aku melihat pancaran. Banyak. Segala tentang kita saling terpancar. Membalut semua tawa. Hanya tawa. Sedih pun akan menjadi tawa disini. Iya. Hanya di sini.

Tapi sekarang, tawa tingkat dewa pun tak lagi menjadi makna. Katanya ini adalah ujung. Hai ujung? Fine, aku membencimu! Juga membenci saat air mata berarak membentuk mendung yang akan menurunkan isinya deras-deras. Menyisakan sengguk tangis dan nafas yang saling beradu menjadi yang pertama. Bergumul dalam peluk-peluk perpisahan. Aku benci saat-saat itu.


“Berpisah adalah momen mahal Tuhan untuk megingatkan kita betapa berharganya segala yang kita miliki” DRSBH1314

Sabtu, 01 Februari 2014

Untuk Engkau yang Ada di sana #End

Bolehlah ini menjadi tulisan terakhir, halaman terakhir dalam buku yang ku beri judul ‘Dirimu’. Bukan aku tak mau bersabar, hanya saja aku tak ingin menyiksa diri. Menjadi makhluk yang menunggu sebuah ketidakpastian adalah perkara maha susah. Alasanku hanya ini. Aku tak ingin membuat diriku berbahagia dalam semu, menunggu segala yang masih terlihat abu-abu. Mungkin aku terlalu berlebih dalam menilai segala tentangmu, segala yang kau lakukan padaku. Sekali lagi cukup. Aku ingin menutup kisah dalam buku ini. Sudah terlalu banyak halaman tanpa ada konklusi yang jelas. Bak alunan air dalam riaknya sungai, berlarut mengiringi dan tak berhenti. Namun aku tak mau begitu.

Cukup sudah keegoisanku akan dirimu. Aku berhenti. Aku tak membakar semua ini. Membakar hanya akan melenyapkan semuanya. Aku hanya menutupnya rapat-rapat, menguburnya dalam-dalam bahkan jika perlu sampai di palung bumi. Tak ada niat untuk membongkarnya barang satu jengkal saja. Tak akan kutunggu disitu, tak akan kujaga. Biarlah. Biar berlalu. Aku berharap angin, hujan, badai dan suasana alam yang lain bisa menjadikannya seperti tempat biasa. Tak terlihat merah karena baru di gali. Biarkan ia menua, rapuh terkikis bahkan terkena abrasi. Biarkan lapuk. Yang pasti aku tak mau peduli.

Ini benar karena aku ingin membuat cerita baru. Lembar-lembar kertas yang entah berapa halaman akan terpakai, sudah menunggu untuk kutulis. Pena dan tinta sudah tersiap rapih di atas meja kerjaku. Aku sengaja tak menyediakan penghapus. Aku tak ingin membuat kesalahan dalam hidup yang dapat menodai kisah baruku. Aku akan bertindak hati-hati. Selanjutnya, aku menyiapkan perbekalan secukupnya. Aku akan berkelana. Bertemu dengan dunia baru. Bertemu dengan orang-orang baru. Menyibukkan diri dengan dunia baru untuk buku baruku. Sekarang dan selanjutnya aku berjalan dengan Dia sebagai petunjuk arahku. Aku serahkan pada Dia. Apapun itu. Aku membaiki diri, Dia yang memutuskan.

Yang kuyakini satu hal, bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Termasuk menguburmu. Aku menyumpahi diri untuk tak menyebutmu lagi. Akan mengusirmu agar tak berlama-lama singgah dalam diri ini. Biarkan udara segar, udara baru menyibakku. Menjadikanku pribadi baru. Aku tak melupakanmu tapi aku mengusirmu dalam diriku. Itu saja.


Tak lupa aku mengucapkan terimakasih. Tak ada kata permusuhan. Sama sekali tak ada. Aku tak membencimu. Aku akan mencoba biasa, seperti biasa dalam biasa. Aku berlepas diri denganmu. Selamat tinggal. Semoga duniamu terwujud seperti anganmu. Sampai jumpa di masa depan, hey kau masa lalu!


Jumat, 04 Oktober 2013

Dunia, Aku Menantangmu !


pict

Dunia, kenalin aku Jati. Aku menantangmu. Beberapa tahun lagi (5 tahun lagi) aku akan berdiri kokoh mempersembahkan yang terbaik untuk bumi pertiwi, Indonesia. Juga untuk keluarga, dan seluruh sahabatku. Payah banget jika sekarang ini kita gagal move on hanya karena IP jeblok, gak lolos PKM, having trouble in organisasi, cemooh sana, cemooh sini, en tetek bengek lainnya.

Sukses adalah ketika kita, keluarga kita, temen2 kita, dan orang-orang disekeliling kita juga sukses. Egois banget dan nggak ada filosofinya sama sekali sebuah hidup jika kamu sukses tapi Cuma "kamu doang".

Gais, lets to think through for our beautifull future.

Mandiri? pasti. Harus dilatih. Sejak dini, sejak sekarang. Loper Koran? Jual pulsa? Jual makanan ringan or something like that, kenapa enggak? Itu sebagai cikal bakal menuju sebuah kesuksesan. Kagak ada yg instan. Nikmatilah masa2 diwaktu susah, sering justru dalam hal itu kita jadi dekeeet banget sama yg Punya hidup. Semoga dalam sempit mopun lapang kita juga tetep deket sama yg di Atas.

Kita kagak tau sampe kapan dikasi kesempatan Allah untuk tetep bernafas, orang tua kita, keluarga dan orang2 yg kita sayangi, do the best as you can do it, as fast as you can, now! Salah sih sebenernya saya bilang now, udah sejak kemarin2 harusnya. Hhe

Masa muda ini nggak akan saya sia-siain dengan berpangku tangan dan menunggu nasib berubah. Saya bukan einstein yg terlalu jenius dengan bermodalkan otak yg encer namun saya punya tekad keyakinan dan yg tak kalah penting adalah usaha.

Jujur semangat saya masih belum konsisten jadi saya butuh motivator. ~~

Jalan hidup saya dilewatkan menjadi mahasiswa kebidanan, of course saya akan jadi bidan. As you know that fresh graduated from midwife is too many. Apalagi dijogja. Tiap ajaran baru di beberapa instansi ada yg meluluskan ratusan mahasiswa, bayangin aja itu baru satu institusi dan itu baru setahun.

Jadi saya harus menjadi bidan yang berbeda. Minimal pendidikan saya tempuh d4 itu pun dengan beasiswa target di Ausutralia, aamiin. Biarin saya koar2 begini, biarin mimpi saya berasa imposibel, insyaAllah para melaikat yg menyaksikan ini turut mengaminkan dan semoga diijabah Allah, aamiin ya Rabb. #Target1 go abroad to continue study and get an experience

Saya fokus sama beasiswa karena, sumpaaah saya maluuuu banget kalo harus minta sama orang tua. Iya sih kita masih ditanggung sama orang tua, tapi mau sampai kapaaaan? Kapan elo mandirriii? Kalo udah punya suami? Keburu kadaluarsa! Masa mudamu flat banget.

Ini saya punyaa target juga ngebiayain kost pake kringet sendiri. Syukur2 ngebiayaain kuliah pake kringet sendiri juga, ammiin. #Target2 Ngebiayain kost sendiri

Saya berpikir buat open minded, celah apa sih yang potensial yang bisa saya kembangkan? Hheh, Alhamdulillah saya udah ketemu jawabnya, kalo ini udah men’dunia’ tak koar-koarin deh. Sementara ini not for public.

Kembali lagi bahwa sukses itu …. Apa hayooo???

Sebuah hadist yang paliinggg terngiang dalam hidup saya adalah, khoirunnas anfauhumlinnas, sebaik-baik manusia adalah yg bermanfaat utk orang lain. Simple tapi kalo bener2 diterapin masyaAllah dah.

Inti dari pembicaraan ini adalah, saya, Jati Setyarini mendeklarasikan diri bahwa saya menantang dunia. Tantangan ini akan terjawab 5 tahun lagi. Siap jadi saksi yaaa!
"kita butuh kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,tangan yang alan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekeja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang senantiasa berdoa"

Kamis, 22 Agustus 2013

Blackberry Dari Sedekah


Assalamualaikum wr wb
Gais, kali ini ijinkan saya share tentang pengalaman real saya seputar sedekah.  Insya Allah bukan maksud riya dan sejenisnya, asli bukan, semoga Allah menjauhkan dari itu, aamiin. Tujuan saya cuma pengen nunjukkin secara real bahwa keajaiban sedekah itu emang ada, dan semoga bisa membuka pikiran dan hati kawan-kawan semua (barangkali ada yang belum terbuka) untuk sedekah bareng-bareng.

Mukadimah
Saya kenal ilmu sedekah kira-kira dipenghujung SMA dulu, saat bulan ramadhan tepatnya. Ada salah satu acara tv sejenis talkshow yang di bintangi oleh ustadz kondang yang saat itu saya belum begitu mengenal beliau, namanya Yusuf Mansur (YM). Materi yang diberikan begitu ringan, santai, mudah diterima, atas dasar yang kuat, dan yang pasti enggak garing. Saya mulai tertarik karena pembawaan beliau begitu khas dengan logat betawi asli. Kadang-kadang saya jadi ikut-ikutan logat beliau, hhe.

Tiap hari sebisa mungkin nggak saya lewatkan menyimak acara beliau. Satu hal yang saya dapatkan dari beliau saat itu bahwa beliau terkesan mewajibkan jamaahnya untuk bersedekah dengan penjelasan panjang dan lebar, maklum YM disandangi gelar ustadz sedekah. Selanjutnya saya pengen mempraktikkan ajakan beliau.

Entahlah setelah  beberapa kali saya sedekah seringnya kemudian saya mendapatkan imbalan yang jumlahnya sama persis dengan yang saya keluarkan. Kadang-kadang justru secara materi saya nggak dapet, tapi Allah membalas lewat bapak atau ibuk saya. ya sertifikasinya turunlah, panennya lakulah, padahal tentang panen nih ya, kawan-kawannya bapak banyak yang gagal panen, nggak laku, dan sejenisnya. Kadang-kadang juga secara materi baik dari aku maupun bapak ibuk nggak dapet, tapi aku ngerasa Allah kasih lewat ketentraman hati, keluarga harmonis, rukun, yah semua hal yang nggak bisa terungkapkan disini. Intinya sedekah itu pasti berbuah hasil.

Case
Nah, suatu ketika timbul keinginan dalam hati saya untuk punya hp. Saat itu hp saya series nokia 3120classic, saya doa nih ya sama genjotin sedekahnya, Alhamdulillah hape saya rusak dan emang nggak bisa dipake lagi, in memoriam ceritanya. Batin saya sih, wuih ini dia kayanya jalan Allah bakal ngganti hape saya. dan Alhamdulillah pangkat hape saya turun jadi series cross C1, hape paling murah saat itu. berharap ganti hape ehh Allah justru kasihnya hape yang begituan. Ya syukuri ajalah.

Batin-batin, ternyata enakan hape saya yang dulu ya, dengan perbandingan ini dan ini. Wuah saya kurang bersyukur kayanya pas pegang hape yang dulu. Tapi yah sudahlah ini pasti yang terbaik. Pas baca-baca Koran, liat iklan hape, wuah saya saat itu pengeen banget hape nokia asha, lumia, terus pindah jadi pengen sony experia, tiap liat iklannya saya shalawatin dah sambil doa. Teruuuusss begitu. Lamaa nih kok belum berbuah juga ya pikirku, udah berbulan-bulan itu, dan akhirnya saya sedikit lupa.

Penguat saya pengen punya hape baru, hape yang smart adalah, saat itu saya sama bapak ke jogja rencana mau beli kamera pocket, mau dibawa ibuk plesir ke bali. Eehhh kok ya pake acara nyasar segala, sedikit nggak nyaman sih suasana saat itu, batin-batin enakan kali ya punya hape yang bisa buat gps-an, pasti nggak bakal pake acara nyasar begini.

Keinginan itu aku sampaikan ke Allah, dengan waktu aku berproses menyempurnakan doaku, kurang lebih kayak gini,
“yaa Allah hamba pengeen deh punya hape baru, sony experia, atau nokia lumia, atau sejenisnyalah yang bisa buat gps-an, biar hamba nggak nyasar lagi, kasian orang tua ya Allah. Tapi jika dengan punya hape baru justru membawa keburukan bagi hamba, hamba hanya bisa berdoa, semoga hamba dan keluarga nggak nyasar lagi meski nggak pake gps, aamiin”

Simple, gitu aja. Dan lagi-lagi waktu menguji kesabaranku. Karena tak kunjung datang, maka aku memutuskan untuk menabung. Menyisihkan sebagian uang untuk beli hape. Ini adalah keputusan yang tidak terlalu pintar (untuk tidak mengatakan bodoh) yang saya ambil. Secara intrinsik saya kayak nggak percaya bahwa Allah bakal kasih saya hape. Saya terkesan mulai meragukan kemampuan Allah, yaa nggak sih?

Hingga akhirnya, belum sempet saya menabung, Allah jawab doa saya. saat itu kakak saya sama suaminya pulkam ke rumah, menjelang hari-hari terakhirnya dirumah, kakak ipar saya bilang,
‘ti, mau make ini nggak?’ serunya sambil menyodorkan sebuah bb.
Aku hanya tercengang diam, kaya nggak percaya aja.
‘mau nggak? Tak hitung sampe tiga nih ya, satuu… duaaa…
‘weh apa-apaan nih?’ seruku bingung
Mbakku kemudian angkat bicara.
‘itu hadiah buat kamu, karena kamu udah berhasil merubah sikapmu, pokoknya pesen mbak, jaga ip nya, cumlaude, blablablaaa…
Mataku sontak berkaca-kaca. Ah masak iya sih aku dikasih bb???
Alhamdulillah yaa Allah, penantian dan doa doaku akhirnya terjawab sudah. Meski aku sebenernya nggak menginginkan bb tapi Alhamdulillah fasilitas yang ada di bb persis kaya yang aku pengen. Aku berterimakasih kepada Allah.
...

Review dikit sedekah apa yang bisa nganterin aku dapet bb ???
Tapi bentar tak jelasin dikit tentang bb-nya, bb ini tipenya BB Torch 9800, kalo baru harganya diatas 2/3jtaan, karena ini habis dipake kakakku ya sebutlah second harga kisaran 1,8jt. Dapet duit segitu aku sedekah berapa emang?

Tapi saya katakan lagi yaa, ini saya nggak ada maksud riya sama sekali insya Allah, Cuma pengen buktiin apa yang dijanjikan Allah, apa yang digembor-gemborkan sama ustadz YM tentang keajaiban sedekah, emang bener-bener real ada, bismillah.

Ramadhan tahun ini, saya isi dengan sedekah ya kurang lebih ada 1jt. Itu duit asalnya dari macem-macem. Yang menarik 500-nya aku temukan nggak sengaja ditempat penyimpanan barang-barangku, ini kayanya uang sisa keperluan pas ndaftar-ndaftar ptn dulu deh, dan seingetku dulu aku sempet bilang, ‘duit ini emang nggak aku tabung, semoga ketika aku nemuin besok aku pas lagi butuh’ dan aku pas nemu itu duit, aku emang baru ada hajat banyak, pengen punya hape baru, pengen ngumrohin ibuk, dll.

Hingga duit yang kutotal 1jt itu aku salurkan di macem-macem juga. Setau saya, sedekah paling baik adalah di bulan ramadhan, jadi ya emang aku manfaatin betul buat ibadah. Selang beberapa waktu setelah idul fitri barulah kesampean aku dapet tuh hape.

Keluar 1jt dapet 1,8jt + fitrah dari keluarga karena udah gede dapetnya yah 300rbuan gitu, hhe
Jadi matematisnya 1 jt = 1,8 + 3 = 2,1jt

Tuh kan dua kali lipatnya?? Dan yang pasti kemudahan lain yang enggak ternilai dengan rupiah. Kuncinya adalah kamu yakin aja Allah bakal memberikan ganti yang berlipat ganda. Orang udah pasti disebutin dalam Al-Quran juga kok. Tambahan lagi, sedekah nggak hanya diwaktu lapang namun juga diwaktu sempit, wuah cakep nih patut dicoba.

Gimana sudah mulai terbuka dengan penjelasan saya, insya Allah ya. Semoga kita tetap senantiasa istiqomah di jalan-Nya. Senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita.  Dijauhkan dari sifat sifat mazmumah, dijauhkan dari godaan syetan yang terkutuk, dijauhkan dari siksa kubur dan siksa neraka, menjadi manusia yang beruntung di dunia dan di akhirat, senantiasa mendapat bimbingan Allah SWT. Allohumma aamiin.


Wassalamualaikum wr wb

Rabu, 01 Mei 2013

Kisah tentang Orang Tua



Ahad, 28 April 2013 rasa-rasanya Allah nampar saya sob dan dengan tamparan itu saya baru menyadari bahwa saya terlalu egoiss, terlalu cuek, terlalu mudah tersinggung dan saya merasa sangatt kurang bersyukur. Terlebih bersyukur atas keberadaan kedua orang tua saya.


Sejauh ini saya merasa apa yang saya lakukan sudah benar dan saya sudah ber-birul walidain- dengan maksimal. Itu yang saya rasakan. Namun kenyataannya mata saya terlalu rabun dan telinga saya terlalu tebal hingga tidak peka dengan situasi kondisi yang ada. Hingga suatu ketika pada tanggal 28 April kemarin kakak kandung saya memanggil saya untuk berbicara empat mata. Namanya mbak wik.

Awal pembicaraan kami masih bersifat umum seputar bapak dan ibuk hingga akhirnya merujuk pada masalah tentang aku. Yah tentang aku, hingga mbak wik meneteskan air mata.

‘ibuk tu cerita sama mbak, katanya kamu kalo dirumah sama nggak dirumah tu sama aja. Ibuk bisanya cerita cuman sama bapak terus padahal ibuk juga pengen berbagi sama kamu tapi kamu selalu ngurung diri di kamar. Kamu jarang bantuin bapak ibuk dek. Terus ibuk penginnya kamu yo ambil bagian apa gitu buat bantu bapak ibuk. Ibuk udah pusing dek ngurus kerjaan kantor belum lagi ibu sering banget ngeluh sakit. Yo dibantulah besok raketang nyapu po apa gitu. Seenggaknya mereka udah seneng’

Glekkk

‘itu tadi baru dari ibuk, bapak juga sempet cerita ke mbak. Katanya kamu jarang bantuin bapak bersih-bersih rumah. Pernah bapak nyapu halaman luar terus ternyata rumah masih berantakan. Bapak mau marah tapi dipendem dek, ditahan sendiri. Bapak tuh ya pengennya kalo bapak nyapu halaman kamu yang nyapu rumah ntar kan selesainya bisa bareng, terus bapak kamu buatin minum gitu dek.

‘Bapak juga sempet bilang kalo akhir-akhir ini jati kok diemin bapak ya? Biasanya dia sms kok ini jarang. Padahal kalo jati sms sebisa mungkin bapak bales dan bapak kasih motivasi biar semangat. Kalo dia pulang ya kalo bapak ada uang bapak kasih berapa gitu, kalo bapak baru nggak ada ya udah bapak nggak kasih. Apa gara-gara bapak nggak bolehin liat Yusuf Mansur kemarin ya wik? Sebenere bapak tu khawatir cewek pergi malem-malem kayak gitu ki’

Glekk glekkk

‘pas kamu pulang kemarin lo dek, kan kamu sms ibuk, nah terus ibuk bilang, wah ini jati mau pulang tapi dirumah g ada lauk. Ayo dicariin lauk kasian. Dan akhirnya didapatlah sebungkus sate’
‘Eee sesampainya dirumah kamu malah langsung tidur. G bilang sekecap dua kecap kata. Ibuk khawatir kamu sakit atau gimana ibuk ngecek kamu dikamar dek kok kamu nggak mau makan ki kenapa. Padahal bapak ibuk tuh emang bener bener nyempetin nyariin makan buat kamu’

…………………………………………………………………………………………………………

Nangis sob aku denger cerita kakakku. Selama ini aku merasa kurang kasih sayang, merasa kurang perhatian dari keluargaku sendiri. Aku merasa sudah membantu beres beres rumah tapi aku nggak dapat feed back apapun dari apa yang udah aku lakuin. Aku berharap kata ‘terimakasih’ saja itu sudah sangat berarti untuk memotivasiku agar aku bisa giat bantu bapak ibuk lagi. Tapi itu g kudapet. Dan aku berasumsi aku bantu kerjaan rumah ataupun enggak itu sama aja.

Satu hal yang bisa aku tarik kesimpulan disini adalah ,
sejengkel-jengkelnya orang tua, semarah-marahnya orang tua ke anak, pasti selalu bisa memaafkan, lekas bisa memahami. Bedaa bangett sama anak, sekali aja orang tua g beresan sama kita , marahnya bisa berhari-hari bahkan diungkit-ungkit’

Terkadang kita merasa kita selalu yang benar. Orang tua g boleh ini g boleh itu kita ngambek. Tapi ketahuilaj sebenernya orang tua tuh selalu pengen yang terbaik buat anaknya.

Egois banget ya kita?
Selama ini aku sangat masih jauh dari kata ‘birul walidain’
Dalam aku belajar di kampus aku masih setengah-setengah, aku terlalu banyak ngeluh.
Dirumah apalagi aku belum bisa bantuin apa-apa.
Selama ini aku belum bisa mengukir prestasi yang bisa mengharumkan nama orang tuaku.
Selama ini aku masih meminta duit buat ini dan itu.
Selama ini aku masih sangat cuek dengan orang tuaku, sekadar sms menanyakan kabar pun aku jarang.
Selama ini aku sangat kurang bersyukur kurang bisa berterimakasih

Nah guys, sekarang selagi kita masih ada waktu ayo kita bahagiakan mereka. Lakukan hal-hal yang bisa membuat mereka tersenyum. Jangan siakan kesempatan yang dikasih Allah ke kita. Banyak pepatah mengatakan kita akan menyadari sesuatu itu berharga bagi kita jika kita sudah kehilangan itu. jangan sampai kita kehilangan dulu baru kita sadar. Sebelum hal terburuk yang tidak kita inginkan itu terjadi mari kita persembahkan yang terbaik untuk kedua orang tua kita.

Setiap hari kita bisa melihat wajah mereka tersenyum, mendengar suara mereka itu adalah anugrah Allah yang harus kita syukuri. Jarang-jarang kan kita bersyukur atas hal hal kecil gituan.

Semakin kesini aku semakin sadar bahwa orang tuaku sudah semakin berusia. Rambutnya kini mulai memutih dan merata. Mereka sudah menginjak separo abad lebih guys. Yah orang tuaku sudah bercucu. Dan aku adalah anak bungsu disini. Aku harus lebih mengerti mereka, memerhatikan mereka. Harus melakukan terbaik, jangan disia siakan.

Namun satu hal yang harus orang tuaku mengerti adalah aku sama seperti anak yang lain. Aku pengen bisa membahagiakan bapak dan ibuk dengan segala kekuranganku. Keinginan terbesarku sedari SMA kemarin adalah aku bisa memberangkatkan ibuk umroh dengan uang hasil keringatku sendiri. Aku mohon tambahan doanya yaa. Aku yakin akan kun faayakun-nya Allah, aku yakin Allah akan bantu aku mewujudkan impianku itu. aamiin.

Penutup
Setiap keluarga memiliki karakter masing-masing dan kita sebagai bagian didalamnya haruslah mengerti dan bisa memposisikan diri dengan baik. Setiap orang tua mnegkspresikan kasih sayangnya dengan cara berbeda-beda tidak selamanya harus diungkapkan dengan kata.

Selalu persembahkan senyum untuk mereka, doakan mereka selalu disela ssujud dan doa-doa kita. Semoga Allah membangunkan surge yang megah untuk mereka, memaafkan segala kesalahan mereka, den memasukkan mereka kedalam orang-orang yang dipilihnya.

Aku sayang keluargaku dengan seluruh kekurangan dan kelebihannya. Aku akan memberikan yang terbaik untuk mereka. Terimakasih bapak ibuk sudah mau merawat dan membesarkan Jati selama ini, maafkan atas kesalahan dan kejengkelan yang Jati perbuat. Jati sayang bapak dan ibuk, jati sayang semuanya.